Headline News:

Tak Bisa Diterjemahkan, Sejarah Tak Terungkap

Peninggalan Adi Poday dan Adi Rasa di Pulau Sapudi tidak hanya berupa benda pusaka. Dua orang tersebut juga mewarisi silsilah kehidupan. Dua jenis silsilah, pertama terbuat dari kapas yang berada di Desa Kalowang, Kecamatan Gayam. Kedua, tercatat lengkap di daun lontar.


INFORMASI yang santer terdengar, dua benda yang berisi catatan silsilah dan riwayat hidup Adi Poday dan Adi Rasa tinggal satu. Yaitu, silsilah yang tercatat di daun lontar. Sementara yang tercatat di buku yang terbuat dari kapas, raib sejak 1954 silam ketika kitab silsilah tersebut dipinjam oleh Pemerintah Kabupaten Sumenep. Nah, daun lontar yang diyakini menyimpan catatan hidup Adi Poday-Adi Rasa itu, masih ada sampai sekarang.

Kini lontar itu dirawat oleh Abd. Rahman, warga Desa Prambanan, Kecamatan Gayam, Sumenep. Untuk mengetahui keberadaan daun lontar tersebut, Jawa Pos Radar Madura mendatangi Abd. Rahman. Dengan kendaraan sepeda motor, koran ini menel lokasi tempat tinggal perawat lontar itu. Jarak yang ditempuh tidak begitu jauh sebenarnya, Namun karena kondisi jalan dari Desa Gayam ke Desa Prambanan rusak parah, sehingga perjalanan sepanjang 20 km memakan waktu berjamjam.

Setiba di rumah sederhana, kakek berusia senja keluar menjawab salam koran ini. Dia tidak lain adalah Abd. Rahman, orang yang dipercaya merawat daun lontar tersebut. Tanpa panjang lebar, kakek tersebut bercerita tentang daun lontar itu. Rahman tidak menyangkal jika daun lontar itu berisi sejarah hidup Adi Poday dan Adi Rasa. Sayang, hingga kemarin tidak ada yang mampu menerjemahkan isi dalam lontar itu.

Cerita yang terkandung di lontar itu tidak terungkap. ”Sedikitnya ada 100 carik daun lontar yang saya simpan. Tulisan dalam lontar seperti huruf Jawa Kawi. Ituyang membuat orang tidak mampu menerjemahkannya,” tuturnya. Makna tulisan tidak diketahui. Padahal penduduk setempat mengharapkan ada hal baru yang terungkap dalam cerita Adi Poday dan Adi Rasa selama ini.

Menurut Pak Mamang –panggilannya, beberapa orang yang datang ke rumahnya tidak menghasilkan apa-apa. Bahkan pernah didatangi salah satu tokoh arkeolog dari Jogjakarta beberapa tahun lalu, namun tak kunjung terungkap. Mereka tidak berhasil menerjemahkan tulisan yang ada di daun lontar itu. Oleh karena itu, hingga kini daun lontar tersebut dibiarkan saja. Namun tetap dirawat sebagai salah satu benda keramat.

Diduga daun lontar ini ditulis Pertala Adi, salah seorang pujangga yang hidup pada zaman kehidupan Adi Poday dan Adi Rasa. ”Ini merupakan peninggalan sejarah. Daun lontar ini berisi cerita sejarah kehidupan Adi Poday dan Adi rasa. Namun sampai saat ini tidak terungkap,” jelasnya. Beberapa orang yang dating berusaha untuk menerjemahknanya. Namun tak satu pun yang mampu mengungkap tulisan pada daun lontar itu.

”Saya nggak tahu apa sebabnya. Apa karena huruf tidak terang, tulisan sulit diartikan, atau bahkan ada hal mistis yang memengaruhinya,” tuturnyakepada Jawa Pos Radar Madura. ”Seandainya tulisan ini bisa diterjemahkan, mungkin seru ceritanya. Karena pasti ada cerita baru yang belum diketahui penduduk Sapudi ataupun orang luar Sapudi sekalipun. Bisa jadi bertentangan dengan sejarah yang beredar di masyarakat sejak ratusan tahun silam,” terangnya. (radar)

Berita Bangkalan, Berita Sampang, Berita Pamekasan, Berita Sumenep

↑ Grab this Headline Animator

kata Kunci Terkait:

  • sejarah yang terungkap
  • peninggalan sejarah tak terungkap di jawa

Komentar Anda

komentar

Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com