Rp 40 M Tunjangan Guru Ngendap

Kemenag Berdalih Tunggu Audit BPKP

BLUTO – Uang yang belum dicairkan hingga saat ini mencapai Rp 40 miliar.  Mahrus Ali, guru asal Desa  Kapedi, Kecamatan Bluto, mengungkapkan, tunjangan itu belum cair selama enam  bulan.

Warga-keluar-dari-ruang-Seksi-Pendma-Kemenag-Sumenep-di-Jalan-KH-Agus-Salim,-Kecamatan-Kota,-kemarin

Bukan hanya dirinya yang belum menerima uang tersebut. Karena itu, dia meminta kemenag mencari solusi agar uang itu bisa  segera dinikmati. ”Kami selaku penerima dana tunjangan itu berharap segera dibayar. Terus terang, sampai  saat ini, belum ada kejelasan  kapan pembayarannya,” cetusnya kemarin (26/2).

Kepala Kantor Kemenag Sumenep Moh. Sodiq tidak membantah keluhan guru itu. Dia menyatakan, tunjangan  tersebut tidak dibayar karena belum diaudit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Selama audit  itu belum dilakukan, pihaknya  tidak berani mencairkan.

”Kami tunggu audit BPKP  dulu. Yang belum terbayar  semua kurang lebih Rp 40  miliar,” ungkap Sodiq di ruang  kerjanya. Mantan dosen IDIA Prenduan  itu menuturkan, penerima tunjangan tersebut  akan didata ulang. Lagi-lagi  dia belum berani memastikan  jadwal pencairan.

”Kalau kami  ingin segera diaudit dan cepat  dicairkan. Bisa jadi, auditnya  Maret atau April,” imbuhnya. Selain audit, ternyata ada masalah lain yang mengakibatkan  uang tersebut ngendap. Pria berkumis itu mengatakan,  pada 2014, banyak guru lulus pendidikan dan pelatihan  profesi guru (PLPG). Namun, pada tahun yang sama, mereka tidak terkover dalam data  penerima tunjangan.

”Sedangkan anggaran kan sudah berjalan waktu itu. Sementara tahun berikutnya  mereka menerima,” ujarnya.  Guru yang belum menerima tunjangan itu diperkirakan  seratus orang. Hak tiap orang yang belum terbayar juga tidak  sama. Antara tiga sampai enam bulan. (radar)