Headline News:

Perempuan Pulau Sakala Kesohor Cantik

SETELAH tuntas menjelajahi Pulau Komirian, tim jelajah melanjutkan perjalanan menuju pulau terluar Kabupaten Sumenep, yaitu Pulau Sakala. Pelayaran dari Pulau Komirian ke Pulau Sakala melintasi beberapa pulau. Rutenya, dari Pulau Komirian berlayar ke Pelabuhan Kalisangka yang terletak di ujung barat Pulau Kangean. Dari Pelabuhan Kalisangka naik ojek dengan jarak 42 kilometer menuju Pelabuhan Kayu Waru ujung timur Pulau Kangean. Lalu menyeberang ke jembatan lama Pulau Sapeken.


Dari Pulau Sapeken naik perahu carteran ke Pulau Pagerungan Besar. Kemudian berlayar lagi mengarungi laut lepas menuju Pulau Sakala. Agar tidak bertemu ombak besar, nakhoda perahu menyiasati dengan berlayar di pagi hari sekitar pukul 06.00. Sebab, pada pagi hari ombak laut tidak begitu besar sehingga perahu dapat melaju kencang. Perahu yang melaju cukup kencang itu pun menimbulkan gelombang di laut tenang.

Kebetulan, perahu yang ditumpangi tim jelajah memang perahu tercepat. Mesin baling-balingnya ada dua. Tidak ayal, perjalanan dari Pulau Pagerungan Besar ke Pulau Sakala hanya ditempuh dua jam 13 menit. Tim jelajah tiba di pulau Sakala saat jarum jam berada di angka 08.13. Kali pertama yang terlihat di Pulau Sakala adalah hamparan pasir putih di pantai bagian barat hingga utara Pulau Sakala.

Puluhan bahkan ratusan pohon cemara besar berdiri kokoh di sekitar pantai. Informasi dari aparat Desa Sakala, Matrasi, secara administrasi Pulau Sakala bagian dari Kecamatan Sapeken. Penghuninya mencapai 2.172 jiwa. Meski termasuk dalam zona Madura secara administrasi, bahasa yang digunakan warga Sakala sehari-hari bukan bahasa Madura. Warga Sakala menggunakan bahasa Bajo logat Bugis dan Mandar untuk percakapan sehari-hari. Bahasa tersebut memang warisan dari nenek moyang mereka.

Maklum, para sesepuh warga Pulau Sakala berasal dari Sulawesi. Tidak heran, jika perempuan Sakala berparas cantik dan berkulit putih. Kecantikannya hingga tersohor ke daratan Sumenep. Di depan rumah, berdiri kokoh pagar tinggi terbuat dari anyaman daun dan pelepah pohon kelapa. Pagar tinggi itu sengaja dibangun untuk melindungi rumah panggung dari terpaan angin kencang. Warga setempat menyebut angin kencang sebagai angin barat.

Jalan utama di Sakala umumnya dipaving dan masih dalam kondisi bagus. Kira-kira lima meter dari badan jalan berjejer perumahan warga. Bangunan rumah panggung masih mendominasi di Sakala. Meski juga telah berdiri sejumlah rumah gedung yang lantainya langsung bersentuhan dengan tanah. Warga yang telah membangun rumah gedung ratarata dalam kategori ekonomi mampu. Sejumlah rumah panggung masih banyak yang terbuat dari gedek dan beratapkan anyaman ilalang.

Di Sakala, rumput ilalang memang tumbuh subur, utamanya di bagian timur hingga selatan. Selain ilalang, pohon kelapa, pohon mangga, dan pohon pisang juga tumbuh baik di Pulau Sakala. Bahkan, buah kelapa, buah mangga, dan buah pisang menjadi komoditas penting yang dijual ke Kepulauan Pammas, Sulawesi Utara. Di samping itu, tanah Sakala sangat cocok untuk tanaman ketela pohon. Hampir seluruh lahan pertanian warga ditanami ketela pohon.

Di Sakala sama sekali tidak ada signal telepon seluler (HP). Namun demikian, tetap saja dijumpai warga yang memilikinya. Ternyata, HP di Sakala tidak digunakan untuk komunikasi, tetapi lebih digunakan untuk menyetel musik. Warga Sakala hanya menikmati terangnya lampu listrik pada pukul 18.00 hingga 23.00 dan dari pukul 03.00 sampai 05.00. Itu pun tidak semua, masih ada warga yang tidak bisa menikmati listrik karena ekonomi. Listrik di Sakala bersumber dari PLTD yang  dikelola perorangan. 

MAKANAN KHAS, SANGKOK RASA PIZZA HUT

KETELA pohon atau singkong tumbuh dengan bagusnya di Pulau Sakala. Tiap tiga bulan sekali singkong sudah bisa dipanen. Umbinya pun besar-besar. Bisa seukuran lengan orang dewasa normal. Tak heran, bila singkong menjadi tanaman pangan sangat penting bagi warga Sakala. Ketela pohon diolah menjadi sangkok oleh warga Sakala. Nah, sangkok inilah yang menjadi makanan utama paling favorit di pulau ini.

Sangkok sepenuhnya terbuat dari singkong. Tentu saja, dengan beragam rasa sesuai selera. Misalnya, manis karena ditaburi gula aren atau gula pasir. Tetapi, rata-rata sangkok diawetkan menjadi seperti butiran beras jagung hingga bisa betahan dua tahun lamanya. Sangkok yang telah jadi butiran beras itu bisa dimakan langsung sebagai camilan. Akan tetapi, sangkok lebih nikmat jika ditanak seperti halnya nasi lalu dimakan bersama ikan bakar. ”Wah, rasanya maknyus,” kata Mak Caming, warga setempat.

Biar bisa merasakan sendiri betapa nikmatnya makan sangkok, Mak Caming bersedia membuatkan. Mak Caming bergegas mengambil singkong dari lahan pertaniannya. Hanya dua pohon saja yang dia cabut dan sudah dianggap cukup. Dibantu tetangga dekatnya, Suryati, tangan Mak Caming begitu lincah menguliti singkong. Singkong yang telah dikupas kulitnya lalu dicuci bersih. Setelah itu, singkong diblender hingga halus.

Singkong yang telah dihaluskan kemudian diperas hingga tak meneteskan air. Selanjutnya, singkong ditumbuk lantas diayak hingga menjadi tepung. Nah, setelah jadi tepung inilah singkong siap dimasak jadi sangkok. Tepung singkong dimasak di atas tungku yang telah benar-benar panas. Wangi singkong bakar telah tercium nikmat meski sangkok belum matang sepenuhnya. Akhirnya, olahan pertama jadi, dan bisa langsung disantap selagi hangat. ”Memang enak, serasa makan pizza hut,” serunya sambil gurau sama Mak Caming. (radar)

Berita Bangkalan, Berita Sampang, Berita Pamekasan, Berita Sumenep

↑ Grab this Headline Animator

kata Kunci Terkait:

  • cewe madura
  • wanita tercantik di pulau kangean
  • pulau perempuan
  • pulau sakala
  • Gadis madura cantik
  • poto gadis madura
  • foto cewe pulau sapeken cantik n nox hpx
  • Cewek madura paling cantik
  • foto Gadis Sumenep madura
  • foto cewek cantik orang madura

Komentar Anda

komentar

Leave a Reply

Submit Comment

Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com