Penolak Tambak Udang Dapat Ancaman

Dewan Sarankan Lapor Polisi

BATANG-BATANG – Aksi penolakan tambak udang di Desa Dapenda, Kecamatan Batang-Batang, menuai respons. Salah satu anggota aktivis  Komunitas Eman Na’poto (KEN) mengaku mendapat intimidasi dari oknum tak bertanggung jawab.

Tekanan itu ditengarai berkaitan dengan rencana pembangunan tambak di desanya. Aktivis KEN Achmad Juri mengatakan, Senin (14/3) sekitar pukul 20.00 menggelar rapat konsolidasi. Rapat tersebut rentetan dari pertemuan antara tokoh masyarakat seputar penolakan pembangunan tambak udang beberapa waktu lalu.

Rapat  tersebut selesai sekitar pukul 22.00. Setelah rapat, satu per satu peserta pulang ke rumah masing-masing. Begitu pula dengan Juri. ”Ya, berpencar sesuai arah rumah masing-masing,” katanya kemarin (15/3). Belum sampai di rumahnya, Juri dicegat dua warga setempat. Pencegatan itu diyakini karena pria berbadan tegap itu ikut barisan penolak tambak.

Tak ayal, anggota KEN yang melihat peristiwa itu langsung mengerumuni Juri. Akibatnya, oknum warga yang dinilai pro pembangunan tambak itu pergi. Saat itu, mereka belum sempat mengutarakan maksud tindakannya menghentikan Juri.

”Meski tidak mengatakan apa-apa, tapi dari gelagatnya memang tidak suka terhadap aksi penolakan tambak udang itu,” ungkapnya pada awak media. Akibat peristiwa tersebut, para aktivis penolak tambak udang resah. Mereka khawatir akan muncul tindak kekerasan dari pihak yang pro terhadap kegiatan yang dianggap akan merusak lingkungan itu.

Karena itu, sebelum jatuh korban, dia meminta pemerintah segera mengambil sikap. Juri mendesak pemerintah dengan tegas melarang penggarapan lahan yang hendak dijadikan tambak tersebut. Sebab, warga yang peduli lingkungan bersikukuh menolak. ”Sampai titik darah penghabisan kami tetap akan menolak,” tegasnya.

Anggota DPRD Sumenep asal daerah pemilihan (dapil) 5 Fathor Rozi mengatakan, persoalan tambak udang sedang dbicarakan di internal dewan. Bahkan dalam waktu dekat, wakil rakyat akan berkoordinasi dengan eksekutif. Dia mengimbau warga yang mendapat ancaman melapor ke polisi. ”Harus melapor agar mendapat jaminan keamanan,” terang anggota komisi IV itu.

Beberapa waktu lalu sejumlah tokoh masyarakat Desa Dapenda berkumpul. Mereka membicarakan rencana pembangunan tambak udang besar-besaran di desanya. Mereka sepakat menolak rencana pembangunan itu. (radar)