Empat Desa di Sumenep Alami Kekeringan

KOTA – Di wilayah Sumenep saat ini masih kemarau basah. Sewaktu-waktu hujan turun meski dengan volume kecil. Tapi, bukan berarti wilayah  ujung timur Madura itu aman  dari bencana kekeringan. Justru, sejumlah desa mengalami  krisis air bersih.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Sumenep  R. Syaiful Arifin menerangkan, berdasar data terbaru,  ada empat desa yang mengalami kekeringan. Yakni, Desa Juruan Daya, Bullaan, Tengedan, dan Batuputih  Daya, Kecamatan Batuputih.

Kekeringan yang melanda beragam. Mulai kering basah hingga kering kritis. De ngan demikian, pasokan air  untuk desa tersebut harus  disegerakan. Syaiful mengatakan, permohonan bantuan air sudah  masuk ke pemerintah. Atas dasar itu, bantuan air bisa direalisasikan.

Diupayakan, pekan ini bantuan tersebut didistribusikan ke Batuputih. Menurut dia, ada beberapa  daerah lain yang juga dikabarkan mengalami kekeringan.   Salah satunya, Desa Kombang, Kecamatan Talango. Hanya,  karena belum ada permohonan, desa itu belum bisa menerima bantuan.

Dalam mencairkan bantuan, BPBD harus memiliki dasar  permohonan tersebut. Sebab, hingga sekarang, belum ada pemetaan daerah rawan bencana dari pemerintah provinsi. ”Permohonan itu  bisa dari pemerintah desa atau masyarakat langsung,” tutur Syaiful kemarin (4/9).

Terkait dana yang digunakan, pendistribusian air itu didanai dari Bantuan Tidak Terduga  (BTT) 2016. Anggaran BTT ta-  hun ini Rp 5 miliar. Dana tersebut tidak hanya khusus untuk  bencana kekeringan.  Bencana lain juga masuk  di dalamnya. Yakni, longsor, puting beliung, kejadian luar biasa (KLB), dan bencana alam lainnya.

”Kami terus menginventarisasi daerah-daerah yang sudah terdampak,” katanya. Sekretaris Komisi IV DPRD Sumenep Moh. Imran menyatakan, pemkab harus mengomunikasikan dengan pemprov  mengenai dampak bencana  yang sudah dirasakan. Sebab, bencana alam tidak bisa diprediksi.

Sewaktu-waktu bisa  terjadi dalam skala yang lebih  besar. Sementara, dana yang  dimiliki daerah terbatas.  Tanpa suntikan dana dari  provinsi, dirasa sulit mengakomodasi seluruh kebutuhan penanggulangan bencana. Dengan demikian, politikus  Hanura itu meminta, koordinasi dilakukan secara intens.

Pemetaan daerah rawan bencana juga harus diputuskan.  Dengan demikian, antisipasi   sejak dini dapat dilakukan. ”Kalau ada prediksi, minimal bisa  mengantisipasi,” ujarnya. Menurut dia, masyarakat  terdampak harus mendapat penanganan cepat dan serius.

Kebutuhan pokoknya harus terpenuhi. Dengan begitu, pemerintah harus siap membantu. ”Jangan sampai ada korban  bencana lambat mendapat penangangan. Pemerintah harus  sigap,” tandasnya. (radar)

kata Kunci Terkait:

  • berita desa kombang kecamatan talango
  • contoh gambaran eksposisi kekeringan