Dituntut Hukuman Mati

Kasus Pembantaian Tiga Anggota Keluaga

KOTA – Sidang kasus pembantaian tiga anggota keluarga dengan terdakwa Beni Sukarno, 36, berlanjut. Beni yang tega membantai istri dan kedua mertuanya itu dituntut hukuman mati. Itu setelah Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Sumenep menuntut terdakwa dengan hukuman seumur hidup kemarin (27/4).

Suasana sidang yang dimulai pukul 11.00 sedikit menegangkan. Puluhan keluarga korban memadati halaman pengadilan sejam sebelum sidang dimulai. Puluhan aparat kepolisian dikerahkan untuk mengamankan jalannya sidang.

Dari ruang tahanan, Beni dikawal sejumlah polisi. Pria asal Surabaya itu mengenakan sarung dan baju putih lengkap dengan rompi tahanan. Sepanjang jalan menuju ruang sidang, Beni menunduk dan sesekali tersenyum kepada awak media yang mengabadikan fotonya.

Tidak ada ketegangan sedikit pun yang terpancar dari raut wajahnya. Agenda sidang tuntutan itu dipimpin Hakim Ketua Arlandi Triyogo dan Hakim Anggota Deka Rachman serta Yukla Yushi. Hakim ketua memberi kesempatan kepada JPU untuk menyampaikan tuntutan.

Kemudian, hakim  meminta tanggapan dari penasihat hukum terdakwa. Hasilnya, penasihat hukum Beni mengajukan pembelaan (pleidoi). Akibatnya, sidang ditunda hingga Rabu (4/5). ”Ini kan masih ada sidang pleidoi minggu depan. Jadi, tunggu saja hasilnya. Apakah meringankan terdakwa atau tidak,” terang Arlandi Triyogo yang juga kepala PN Sumenep.

JPU Dicky Andi Firmansyah dalam pembacaan tuntutannya meminta Beni dihukum mati. Sebab, pembunuhan oleh terdakwa termasuk kategori terencana dan dilakukan dengan keji.  Selain itu, Beni dijerat pasal perlindungan anak. Mengingat, pascatragedi tersebut, ketiga anaknya harus diasuh  sanak saudara yang lain.

”Tidak ada yang meringankan terdakwa,” tegasnya. Kajari Sumenep Bambang Sutrisna menambahkan, terdakwa dituntut pasal 340 KUHP. Kemudian, undang-udang perlindungan anak. ”Tuntutannya hukuman mati,” katanya.

Menurut dia, semua pasal-pasal yang dituntutkan kepada terdakwa terbukti. Bahkan, akibat tindakan keji oleh Beni itu, memberikan dampak derita mendalam bagi keluarga korban. Sementara itu, penasihat hukum terdakwa Syamsul Arifin menegaskan, pihaknya bakal melakukan pembelaan secara tertulis.

Tuntutan hukuman mati dirasa terlalu berat. Sebab, Beni memiliki anak yang harus diasuh. ”Kasihan anaknya, harus mendapat kasih sayang,” ujarnya. Di tempat terpisah, Muslihah, 30, keluarga korban, mengatakan, Beni harus dihukum mati. Sebab, dia telah membunuh tiga nyawa sekaligus dengan cara yang
sangat keji.

”Tidak boleh ditawar lagi, harus dihukum mati,” tegasnya. Pihak keluarga berharap, hakim memberikan hukuman yang setimpal kepada  Beni. Menurut dia, tidak ada ampunan lagi yang harus diberikan kepada pria yang pernah menjadi pengamen itu. ”Intinya dari pihak keluarga, dia (Beni, Red) harus dihukum mati,” tandasnya.

Untuk diketahui, Beni membantai istri dan kedua mertuanya di Kelurahan Bangselok, Kecamatan Kota Sumenep, pada Kamis, 22 Oktober 2015. Tiga orang tewas. Yakni, Saradina,  32, istri Beni; Suhairiyah, 50; dan Abdul Rahman, 65, mertua terdakwa. (radar)