Pedagang Sapi Sabotase Jalan Provinsi

Dijadikan Pasar karena Tak Ada TPS

KOTA – Pasca pembangunan Pasar Margalela, pedagang dan  penjual sapi kelimpungan. Sebab, pemerintah tidak menyediakan tempat penampungan sementara (TPS) bagi para pedagang. Akibatnya, masyarakat menjadikan Jalan Raya Syamsul Arifin, Kelurahan Polagan, sebagai pasar dadakan.

Akibatnya, jalan provinsi yang biasa dijadikan akses pengendara dari Surabaya–Pamekasan itu tidak bisa dilalui. Jalan tersebut dipenuhi penjual sapi. Sebelumnya, pemkab terkendala anggaran penyediaan TPS sehingga tidak mendapat lokasi yang pas.

Ada dua lokasi yang rencananya dijadikan pasar sapi sementara. Yakni, lapangan di Jalan Raya Taddan, Kecamatan Camplong, dan lahan kosong di Desa Patarongan, Kecamatan Torjun. Namun, Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan, dan   Aset (Dispendaloka) Sampang  bingung menentukan lahan.

Plh Bupati Sampang Fadhilah Budiono menyatakan, saat ini pemerintah daerah masih mencari solusi untuk menentukan lahan pasar sapi. Karena itu, pedagang sapi memilih tempat  di jalan raya. ”Kami juga bingung mencari lokasi sementara. Kami akan turun lagi ke lapangan untuk  mencari lokasi,” ucap Fadhilah  kemarin (6/10).

Mantan bupati dua periode itu mengakui, pihaknya telah meninjau tiga lokasi yang direncanakan menjadi tempat sementara. Akan tetapi, tempat itu belum bisa ditempati. Di antaranya, lapangan di Desa Sejati, Kecamatan Camplong, yang tidak mendapat izin dari pemilik.

Lapangan di Kelurahan Dalpenang masuk daerah rawan banjir. Sedangkan lahan kosong di Desa Patarongan terkendala biaya sewa. ”Waktu kami terlalu mepet karena pasaran sapi di Sampang hari Kamis. Mudah-mudahan minggu  depan sudah ada tempat bagi para pedagang sapi,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dispendaloka Sampang Suhartini  Kaptiati belum bisa dikonirmasi. Kabid Pengelolaan Aset Dispendaloka Bambang Indra Basuki enggan berkomentar. Pihaknya menyarankan untuk konfirmasi langsung kepada Kabid Pendapatan Zurqoni.

Sayangnya, ketika dikonfirmasi, yang bersangkutan menghindar dari wartawan. Pihaknya menyarankan langsung kepada atasannya. ”Saya tidak mau  berkomentar. Silakan saja langsung ke Bu Kadis (kepala dinas, Red). Kami setelah jam istirahat  kedua mau ke lapangan,” jelasnya sambil keluar kantor.

Di tempat terpisah, Kepala Desa Patarongan Mohammad Subaidi  mengaku menunggu keputusan pemerintah untuk penggunaan lahan kosong di daerahnya. Tapi,  sebagian pedagang ada yang menempati lahan kosong yang tidak jauh dari kediamannya itu.

”Kalau kami siap, tinggal menunggu keputusan pemerintah. Ada sebagian lahan yang sudah diberi pembatas. Sebagian lagi belum mendapat persetu- juan dari warga,” katanya. Banyak pedagang sapi yang berdatangan ke lahan kosong itu. Namun, semuanya berangsur kembali ke jalan raya di  depan Pasar Margalela.

”Lahan parkir mobil pengangkut sapi belum ada. Kalau pemerintah sudah setuju, kami akan menyediakan,” tuturnya. Sementara itu, Ketua Paguyuban Pedagang Sapi Desa Patarongan H Maryangen mengatakan, pedagang sapi lebih  kompak memilih lahan yang ada di Desa Patarongan. Sebab, selain lokasinya lebih dekat dari perkotaan, juga tidak terlalu jauh.

”Kalau ditaruh di Desa Taddan, pedagang dari Sampang kejauhan. Justru mempermudah pedagang dari Pamekasan,”  jelasnya. Karena itu, pihaknya meminta ketegasan pemerintah. Jika dibiarkan, yang menjadi korban adalah pengendara dan pedagang sapi. ”Makanya, kami minta pemerintah tegas menentukan lahan,” pintanya. (radar)

kata Kunci Terkait:

  • isi dari pedagang sapi sabotase jalan provinsi
  • desa patarongan
  • kabar terbaru carok di sampang
  • pedagang sapi sabotase jalan provinsi
  • sampang
  • struktur pedagang sapi sabotase jalan provinsi