Headline News:

Minta Dibacakan Yasin 3 Jam sebelum Meningga

Kepergian Marwah Marhona binti Hasan untuk selamanya melahirkan duka mendalam bagi keluarganya. Mereka umumnya terkejut atas meninggalnya TKI yang berangkat dengan cara umrah itu ke Arab Saudi. Bagaimana kondisi keluarganya?


SUASANA hening penuh duka terlihat jelas di rumah almarhumah Marwah Marhona binti Hasan, 55, di Dusun Nangger, Desa Plakaran, Kecamatan Jrengik, kemarin (11/6). Saat sejumlah awak media tiba di rumah sederhana itu, keluargakorban langsung keluar rumah  dan menerima wartawan dengan ramah. ”Silakan masuk, maaf rumah kami berantakan,” tutur Nafisah, adik korban yang ditemani suaminya Achmad Mohsin dan Siti Khodijah, anak bungsu Marwah.

Setelah Jawa Pos Radar Madura bersama sejumlah media lain duduk, tak lama kemudian Kepala Desa Plakaran Moh. Ersat juga bergabung. Sambil melayani tamu yang datang melayat, baik Siti Khodijah maupun Nafi sah langsung bercerita banyak soal Marwah. Dikatakan, sebelumnya keluarga korban mengaku tidak memiliki fi rasat apaapa atas meninggalnya Marwah. Rasa khawatir baru dirasakan setelah korban menelepon putrinya di Sampang.

Kepada Siti Khodijah korban mengeluh kecapekan saat antre mengurus Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) di KJRI Jeddah. Belum tuntas berbicara, tiba-tiba korban mematikan telepon selulernya. ”Saat itu umi mengatakan kalau  dirinya capek. Tolong doakan umi mudah-mudahan segera selesai ngurus paspor, umi capek,” tutur Siti Khodijah yang mengaku ditelepon 3 jam sebelum korban meninggal dunia. Menurut Khodijah, ibunya menelepon pada pukul 14.00 waktu Jeddah.

Ibunya mengaku kecapekan dalam antrean dan berpesan untuk didoakan dengan membaca surat Yasin sebanyak-banyaknya. Merasa aneh dengan suara ibunya yang tiba-tiba mematikan HP, Siti Khodijah langsung bercerita pada bibinya Nafi sah, adik almarhumah. Setelah itu, hati Khodijah tidak tenang. Dia ingat dengan kejadian ibunya yang tiba-tiba  mematikan HP kala itu. Khodijah juga mengaku aneh dengan ibunya yang tiba-tiba meminta agar dibacakan surat Yasin sebanyak-banyaknya.

Sekitar pukul 17.00 waktu Jeddah atau pukul 21.00 WIB rasa khawatir dan waswas Khodijah terjawab dengan kabar duka. Kholifah, anak Marwah yang  saat itu tengah bersama almarhumah di Jeddah mengatakan bahwa ibunya telah meninggal dunia dalam perjalanan
menuju rumah sakit setempat. Mendengar suara menangis Kholifah di ujung telepon, Siti Khodijah langsung menangis keras. Tak lama kemudian kerabatnya berdatangan.

Sejak saat itulah kabar kematian Marwah menyebar di seluruh desa. ”Almarhumah sengaja tidak dipulangkan ke Sampang karena kasihan terlalu lama di ruang pembekuan mayat,” kata Nafi sah sambil terbata-bata. Lebih jauh dikatakan, pihak keluarga sudah ikhlas dengan kepergian Marwah untuk selamanya. Karena itulah, pihak keluarga juga menyetujui penguburan Marwah dilakukan di Jeddah.

Untuk mengenang Marwah, sejak kemarin malam keluarga telah menggelar prosesi tahlilan yang rencananya dilaksanakan selama 7 hari ke depan. Pihak keluarga, kata Nafi sah, memohon doa pada seluruh masyarakat serta uluran tangan pemerintah. Korban yang pergi ke Arab Saudi menggunakan visa umrah itu meninggalkan tiga orang anak. Dua di antaranya berada di Sampang dan masih berada pada usia sekolah, yakni Siti Khodijah dan Humaidi. Sementara anak pertamanya, Kholifah, berada di Arab Saudi, juga menjadi TKI. (radar)

Berita Bangkalan, Berita Sampang, Berita Pamekasan, Berita Sumenep

↑ Grab this Headline Animator

kata Kunci Terkait:

  • mimpi di rumah dibacakan yasin
  • minta dibacakan yassin
  • surut yaasin yang di bacakan oleh jjamjam

Komentar Anda

komentar

Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com