Hujan Mulai Turun, Petani Garam Resah

KOTA – Petani garam tidak hanya resah lantaran tidak terbelinya hasil panen garam di Sampang. Keresahan petani  semakin lengkap ketika musim hujan mulai membasahi  Kota Bahari. Karena itu, petani memilih memanen garam  lebih awal daripada biasanya  kemarin (25/11).

Dua-petani-memanen-garam-sebelum-hujan-turun-kemarin.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Madura, para petani mulai repot mengemas garam  di gudang. Hal itu dilakukan karena khawatir garamnya kehujanan. Sebab, gudang garam milik warga rata-rata berbentuk seadanya sehingga harus dilindungi  dari air hujan.

Hingga kemarin, garam rakyat banyak yang belum terserap di gudang-gudang pemilik tambak garam. Beberapa gudang milik petani full. Khawatir, tidak ada tempat untuk menyimpan garam. Salah seorang petani garam di Desa Pangarengan, Kecamatan Pangarengan, Syaiful Ulum, mengatakan, sejak sebulan terakhir,  garam KW 3 dan KW 4 tidak  terserap.

Sebab, garam kelas III dan kelas IV tersebut tidak dibeli oleh pedagang maupun perusahaan garam swasta. Dengan  demikian, banyak petani yang  merugi. ”Kami sangat khawatir harga garam semakin rendah jika musim hujan,” katanya.

Untuk garam KW 3, tutur  dia, ada sebagian perusahaan  yang membeli. Namun, jumlahnya  relatif sedikit. Misalnya,  PT Garindo dan PT Budiono  di Pamekasan. Harganya cukup miring. Sebab, KW 3 seharga  Rp 350 per ton setelah  sampai di gudang Pamekasan.

”Sementara garam KW 4 tidak dibeli” ungkapnya.  Selain itu, harga garam menurun  daripada bulan-bulan sebelumnya. Perinciannya, KW 1  yang seharga Rp 725 ribu per ton turun menjadi Rp 700 per  ton. KW 2 yang Rp 600 ribu per ton turun menjadi Rp 550 per  ton. Sementara itu, KW 3 Rp 350  ribu per ton dan garam KW 4 Rp 250 ribu per ton. (radar)