Harga Garam Anjlok, Petani Merugi

KOTA – Nasib petani garam di Kabupaten Sampang semakin memprihatinkan. Pasalnya, selama dua pekan terakhir ,  harga garam kian merendah. Bahkan, per karung dihargai Rp 5 ribu.  Informasi yang dihimpun Jawa  Pos Radar Madura, harga garam di  Sampang tahun ini paling rendah daripada tahun sebelumnya. Rendahnya  harga garam benar-benar   merugikan petani.

Seorang-petani-bersama-anaknya-memperbaiki-saluran-lahan-pegaraman-di-Desa-Aeng-Sareh,-Kota-Sampang,-kemarin.

Jumlah produksi garam tahun ini sangat melimpah. Akibatnya, banyak mantong (pekerja garam) berhenti dari pekerjaannya. Pekan lalu harga garam masih tinggi. Berdasar keterangan petani, harga garam  KW 1 Rp 400 ribu per ton. Untuk jenis KW 2, harganya Rp 350 per ton.

Sementara garam KW 3 Rp 230 per ton dan KW 4 Rp 200 ribu per ton. Pekan ini harga garam malah semakin anjlok. KW 1 turun drastis menjadi ke Rp 200 ribu per ton. Jika dihitung per karung, jenis KW 1 seharga Rp 10 ribu.  KW 2 hanya Rp 5 ribu per karung.

Akibatnya, banyak petani yang memilih  tetap menimbun garamnya.  Imam, 40, petani garam, asal Desa Aeng Sareh, Kota Sampang, mengaku sengaja menimbun garam untuk sementara waktu. Sebab, harga sangat anjlok dan tidak sesuai dengan biaya produksi.

”Kami  timbun saja garam. Dijual pun harganya  tidak bisa mengganti harga produksi,”  katanya kemarin (24/12).  Laki-laki yang tengah memperbaiki  saluran air itu berharap, ada penyerapan  garam rakyat besar-besaran dari pemerintah.

Sebab, saat ini ribuan ton garam masih berada di lahan pegaraman. Data terakhir, jumlah garam rakyat yang tidak terserap sekitar 124 ribu ton. Sebelumnya, petani sengaja menyimpan garamnya sambil menunggu penyerapan yang akan dilakukan PT  Garam.

Rencananya, PT Garam menyerap garam rakyat dengan dana penyertaan modal negara (PMN). Tetapi, hingga akhir tahun, tidak jelas rencana kebijakan penyerapan garam itu. Secara terpisah, Kabid Kelautan Dinas Kelautan, Perikanan, dan Peternakan (DKPP) Sampang Moh. Mahfud menyatakan sudah berkoordinasi dengan  sejumlah perusahaan.

Tujuannya,  perusahaan dapat menyerap garam  rakyat dengan harga layak.  Pihaknya juga mengaku telah melakukan sosialisasi dengan mendatangkan petani dan sejumlah perusahaan. ”Kami sudah berkoordinasi dengan mereka (pengusaha garam,  Red) untuk menyerap garam sesuai ketentuan,” ucapnya. (radar)