Temukan Rekening Fiktif

Kejari Tengarai Mengalir ke Keluarga Kadiono

KOTA – Satu per satu modus operandi korupsi di lingkungan Bulog Sub Divre XII Madura terus terungkap.
Terbaru, berdasarkan keterangan saksi, Kejaksaan Negeri (Kejari)  Pamekasan menemukan adanya rekening  fiktif yang dibuat oleh mantan  Kepala Gudang Bulog Kadiono yang  kini berstatus terdakwa.

Temukan-Rekening-Fiktif,-Kejari-Tengarai-Mengalir-ke-Keluarga-Kadiono

Keterangan  saksi itu semakin memberatkan posisi  Kadiono di mata hukum.  ”Di sidang pada Senin lalu (23/11)  juga terungkap adanya aliran dana  kepada keluarga terdakwa. Hal  ini dibuktikan dengan dibukanya  rekening baru atas nama saksi yang  sekaligus sebagai pegawai Bulog,” ungkap Kepala Kejari Pamekasan  Toto Sucasto melalui Kepala Seksi  (Kasi) Pidana Khusus (Pidsus) Agita  Tri Moertjahjanto kemarin (29/11).

Pria asal Pasuruan itu menjelaskan,  perkara korupsi Bulog memang  menjadi atensi intansinya.  Pasalnya, masih ada 10 tersangka  dalam perkara tersebut yang terus  diselidiki. Oleh karena itu, Agita  mengaku akan memaksimalkan  penanganannya hingga tuntas.

Ditanya agenda apa yang akan digelar dalam mengusut perkara tersebut? Menurutnya hari ini  pihaknya akan mendatangkan  lima saksi dalam persidangan lanjutan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya. Lima  saksi itu merupakan permintaan  majelis hakim dalam sidang pemeriksaan  saksi perkara korupsi  Bulog pada Senin (23/11) lalu.

”Kalau yang hadir dalam sidang  kemarin ada lima saksi. Salah  satunya sebagai tersangka. Nah,  untuk besok tetap lima saksi.  Namun, kami tidak bisa menyebutkan  apakah ada yang berstatus tersangka. Yang jelas, masih dari lingkunga  Bulog,” paparnya.

Dijelaskan bahwa hasil pemeriksaan sejumlah saksi dari internal  Bulog yang diperiksa saat itu memperkuat  dakwaan yang disangkakan  kepada terdakwa. Sebab, dalam  sidang pemeriksaan saksi terungkap  praktik yang semestinya barang  yang masuk terlebih dahulu ditimbang  dan diuji.

”Namun hal tersebut  tidak dilakukan. Tentu, sudah tidak  sesuai dengan SOP,” terang Agita.  Sekadar diingat, kasus korupsi  pengadaan beras fiktif yang menjerat  mantan Kepala Gudang Bulog  Kadiono itu terungkap setelah Bulog  Divre Jawa Timur melakukan audit  internal pada Desember 2014 lalu.

Dari hasil audit, ditemukan 1.504,07  ton beras hilang. Atas perkara  itu, terdakwa terancam Pasal 2, 3,  dan 9 UU Nomor 20 Tahun 1999  tentang Pemberantasan Tipikor  sebagaimana telah diubah dengan  UU Nomor 20 Tahun 2001. ”Ancaman hukumannya minimal 4 tahun dan maksimal 20 tahun  hukuman penjara,” pungkas  Agita. (radar)