Pastikan Zahri Dipecat

Sipir yang Jadi Kurir Sabu

KOTA – Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kelas  II-A Pamekasan Kusmanto Eko Putro tidak mengampuni kesalahan anah buahnya, Zahri. Dia memastikan, sipir yang ketahuan jadi kurir sabu-sabu (SS) itu dipecat.

Sipir asal Kecamatan Kadur ini, kata Eko, terpaksa diberhentikan karena pelanggarannya fatal. Selain terlibat peredaran SS di lapas, Zahri juga tidak masuk kerja selama 45 hari berturut-turut. ”Kalau sudah pelanggaran berat seperti itu otomatis harus dipecat,” kata Eko kepada awak media kemarin (29/3).

Eko menegaskan, akan memecat anak buahnya yang terlibat  jaringan narkoba. Dia tidak akan tebang pilih terhadap sipir yang melanggar. Di samping memberi sanksi berat, Eko berjanji segera mengevaluasi  kinerja anak buahnya sekaligus memperketat penjagaan.  Hal itu agar lapas tidak kecolongan lagi.

Menurut Eko, hal itu terjadi lantaran jumlah sipir tidak sebanding dengan jumlah napi. Seharusnya dalam penjagaan terdapat 1 sipir banding 20 napi. ”Di lapas Kelas II-A Pamekasan, 1 sipir banding 100 napi. Tetapi, kami tetap optimistis bisa memperketat lapas,” janjinya.

Eko juga mengklarifikasi konferensi pers BNN pusat beberapa waktu lalu. Menurut dia, Zahri tidak ditangkap di akses Suramadu seperti yang diberitakan sebelumnya. Anggota BNN membekuk Zahri di kawasan Banyu Urip, Surabaya.

”Bahkan, kata Budi Waseso, Zahri juga terlibat peredaran narkoba di lapas lain di Indonesia,” tandasnya. Berdasarkan hasil penyelidikan, diketahui Zahri mengaku terpaksa menjadi kurir SS. Alasannya, terdesak urusan ekonomi.

Gaji yang dia terima dari lapas tidak cukup untuk kebutuhan rumah tangga kepada dua istrinya. Disinggung dengan dua napi yang menjadi gembong narkoba di dalam lapas? Eko mengatakan,  saat ini masih dalam penyidikan  BNN pusat. Namun, pihaknya diminta  untuk menggali informasi.

”Untuk proses hukumnya, kita tunggu petunjuk BNN. Sebab, saat ini masih dalam pengembangan,”  pungkasnya. (radar)