Hujan Tak Normal, Petani Merugi

Disperta Ngaku Tidak Bisa Membantu

KOTA – Petani jagung di Kota  Gerbang Salam mengeluh.  Pasalnya, musim hujan tahun ini tidak berjalan normal, bahkan terlambat dari musim sebelumnya. Akibatnya, beberapa tanaman jagung tidak subur. Karena tidak subur, hasil panen  pun menyusut.

Ismail-petani-Desa-Trasak,-Kecamatan-Larangan,-memperlihatkan-kualitas-jagung-yang-ditanamnya--kemarin.

Buah jagung  juga banyak yang rusak dan ukurannya lebih kecil. Jika lazimnya  tongkol penuh dengan  biji jagung, kali ini justru bolong-bolong.  Tak heran bila seorang petani jagung asal Desa Trasak,  Kecamatan Larangan, Ismail  mengaku terancam rugi.

”Hujannya lambat, makanya untuk tahun ini kami pastikan merugi. Sebab, kalau hujannya normal, biasanya lebat  dan tidak seperti ini, ” ujarnya  dengan nada pasrah.  Ismail menuturkan, sejak awal  masa tanam hujan sudah tidak normal. Akibatnya, jagung yang  ditanam banyak yang mati dan  tumbuhnya tidak subur.

Dikatakan, memang akhir-akhir ini curah hujan terus melanda  wilayah Pamekasan. Namun,  itu tidak bisa membantu. ”Sekali hujan kan langsung  deras. Akibatnya, banyak tanaman  jagung yang roboh dan mati. Selain itu, kualitas jagungnya  juga tidak bagus. Nah,  itu yang membuat kami rugi  dan tidak bakal balik modal,”  ucap pria berusia 50 tahun itu.

Dia juga memprediksi, hasil  panen jagung di lahannya seluas tiga petak dimungkinkan hanya menghasillan tiga sak. Berbeda  dengan tahun-tahun sebelumnya  yang bisa sampai 15 hingga  17 sak. ”Ya, kami hanya bisa pasrah. Sebab, ini sudah cobaan. Namun, jika kami berharap  lebih, setidaknya pemerintah membantu,” terangnya.

Terpisah, Kabid Produksi Tanaman Pangan Disperta Pamekasan  Slamet Budiharsono mengatakan, pihaknya tidak bisa membantu petani yang rugi akibat tidak normalnya curah hujan. Lebih dari itu, pihaknya mengaku tidak bisa  berbuat apa-apa.

”Sebab, itu  sudah kondisi alam. Hanya,  kalau petani minta bantuan  karena banyak hama yang menyerang,
itu bisa dilakukan,”  pungkasnya. (radar)