Gudang Garam Tolak Tembakau Sawah

BATUAN – Fenomena kemarau basah benar-benar menjadi musibah bagi petani. Kualitas daun emas itu turun drastis.  Khususnya, tembakau sawah. Akibatnya, PT Gudang Garam (Tbk) tidak berani membeli karena kualitasnya sangat jelek.

Hal itu disampaikan Wakil Kuasa Pembelian Tembakau PT Gudang Garam di Desa Gedungan, Kecamatan Batuan, Freddy Kustianto Kamis (22/9). Hal itu, jelas dia, menjadi keputusan manajemen. Sejak dibuka pada 5 September, gudang hanya membeli tembakau tegalan dan tembakau hasil pegunungan.

”Tapi, kualitas tidak memengaruhi harga. Harga tetap tinggi antara Rp 25–40 ribu per kilogram,” terangnya. Keputusan gudang tembakau terbesar di Sumenep itu cukup  mengecewakan petani. Sebab, dalam bebeberapa bulan terakhir, banyak petani menanam tembakau di sawah.

Jika hal itu benar-benar diterapkan, tembakau  petani diprediksi tidak laku.  Salah seorang petani Murahmat, 56, menuding, ada upaya diskriminasi. Untuk itu, dia berharap pemkab turun tangan. Pemerintah segera mencarikan solusi. ”Masak harus ditolak? Ini namanya diskriminasi,” ujarnya.

Murahmat menyayangkan sikap PT Gudang Garam. Mestinya, pihak gudang tetap membeli walaupun dengan harga lebih murah. Dia khawatir, gudang lain juga memberlakukan hal yang sama. ”Pokoknya ini segera disikapi,” tembahnya.

Ketua Komisi II DPRD Sumenep A.F. Hari Ponto berjanji akan berkoordinasi dengan  pihak terkait. Pihaknya bakal mendatangi pemkab dan pihak gudang untuk membicarakan penyelesaian. ”Nanti kami koordinasi dulu,” janjinya. Kepala Disperindag Sumenep  Saiful Bahri belum bisa memberikan keterangan.

Saat dikonfirmasi, dia mengaku sedang rapat. Mantan kepala dishutbun itu meminta datang ke kantornya. ”Ke Kantor saja, saya masih sibuk  di pemkab,” jelasnya. (radar)