Tim ZA-Eva Temukan Kecurangan

Tuntut PPK Hitung Ulang

SUMENEP – Dua hari pasca pemungutan suara Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sumenep, tim pemenangan pasangan calon (paslon) Bupati dan Wakil  Bupati Sumenep Zainal Abidin–Dewi Khalifah (ZA–Eva) mengaku,  menemukan kecurangan yang dilakukan  penyelenggara.

HASIL-REKAPITULASI-PPK

Temuan kecurangan itu berdasarkan laporan  dari tim kecamatan.  Sekretaris Tim Pemenangan ZA– Eva A. Zahrir Ridlo mengungkapkan, sesuai laporan yang diterima  dari timnya, dugaan kecurangan itu terjadi secara masif.

Seperti yang terjadi di kepulauan, pendukung ZA–Eva mendapat intimidasi dari penyelenggara saat menukar undangan dengan surat suara. Selain itu, kecurangan juga terjadi di Desa Banaresep Timur, Kecamatan Lenteng.

Bentuk kecurangan terlihat jelas dari tingkat kehadiran pemilih yang melebihi 100 persen. ”Masak tingkat kehadiran mencapai 107 persen. Itu kan tidak masuk akal, kecuali cadangan surat suara juga dipakai,” ungkapnya kepada  Jawa Pos Radar Madura kemarin  (11/12)  Iir–sapaan A. Zahrir Ridlo–menambahkan, kecurangan   juga terjadi dalam proses penghitungan.

Yaitu ada yang  melakukan penghitungan sebelum  pukul 13.00. Padahal, sesuai Peraturan KPU Nomor 10 Tahun 2015, tindakan itu tidak  dibenarkan. ”Banyak laporan kecurangan  lain yang masuk pada kami,   dan kemungkinan akan terus bertambah,” tambahnya.

Untuk menindaklanjuti kecurangan, tim ZA–Eva terus mengumpulkan bukti-bukti kecurangan. Setelah bukti lengkap,  pihaknya akan melapor  secara resmi kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan  Panitia Pengawas Pemilihan  (Panwaslih) Sumenep.

”Selain melapor, kami juga  akan menuntut penghitungan  ulang,” tandasnya.  Ketua Panwaslih Sumenep Moh. Amin mengatakan, penghitungan ulang bisa dilakukan, asalkan ada bukti kuat kecurangan. Jika bukti-buktinya  tidak kuat, penghitungan  ulang tidak bisa dilakukan.

Terkait tingkat kehadiran yang lebih dari 100 persen, Amin menegaskan, itu bukan persoalan. Dia justru menilai hal itu bagus.  ”Berarti partisipasi masyarakat  tinggi,” katanya. Apalagi, di daerah yang dimaksud perolehan suara dari masing-masing paslon tidak terlalu jauh berbeda.

”Intinya, jika ada bukti konkret yang mengarah pada perusakan perolehan suara paslon, insya  Allah bisa dihitung ulang,”  katanya. Pada prinsipnya, panwaslih akan selalu memfasilitasi laporan yang disampaikan masyarakat.

Mengingat, Pilkada 2015 diharapkan bersih   dan tidak ada sedikit pun kecurangan.  Terpisah, anggota tim pemenangan  paslon Busyro–Fauzi, Rusmaidi mengatakan, tuntutan  penghitungan ulang dan  laporan tim ZA–Eva merupakan hak mereka.

Terkait adanya temuan kecurangan, itu tidak ada kaitannya dengan paslon Busyro–Fauzi. ”Urusan kecurangan adalah  urusan tim ZA–Eva dengan  penyelenggara, bukan dengan kami,” katanya. (radar)