Rodiyah Tewas di Tangan Menantu

Sakit Hati karena Korban Terus Menagih Utang

KLAMPIS – Pelaku pembunuhan terhadap Rodiyah, 57, yang ditemukan tewas di tepi sungai Desa Panyaksagan, Kecamatan Klampis, Selasa lalu (16/2) terungkap. Ironisnya, pelaku pembunuhan perempuan parobaya  itu adalah menantunya sendiri,  Maisum, 48.

Maisum,-pelaku-pembunuhan-terhadap-Rodiyah,-diamankan-di-Mapolsek-Klampis

Tersangka merupakan istri Enjib, putra Rodiyah. Kronologinya, Minggu lalu (14/2) sekitar pukul 17.45, Rodiyah  bersama cucunya mendatangi rumah putranya, Enjib, yang berjarak sekitar 200 meter dari rumah Rodiyah. Beberapa  menit kemudian, Enjib kemudian  pergi ke pasar malam di  Kecamatan Sepulu.

Sekitar pukul 19.00, Rodiyah buang air besar di tepi sungai yang berjarak sekitar 40 meter dari rumah Enjib. Sebelum buang air besar, Rodiyah menagih utang kepada Maisum. Sebelumnya, Rodiyah pernah menitipkan kalung emas kepada Enjib, kemudian oleh Maisum digadaikan senilai Rp 2 juta.

”Motif pembunuhan itu,  Maisum sakit hati karena selalu ditagih utang untuk menebus kalung Rodiyah. Namun, Maisum hanya janji-janji terus kepada Rodiyah,” ungkap Kapolsek Klampis AKP Irifandi kepada Jawa Pos Radar Madura, kemarin (21/2).

Irifandi menambahkan, Maisum merasa sakit hati karena selalu ditagih utang oleh mertuanya. Saat suaminya pergi, kebetulan malam itu korban sedang buang air besar di tepi  sungai. Kebencian Maisum kepada mertuanya pun semakin memuncak. Dia menghampiri  Rodiyah di tepi sungai dengan membawa sebilah sabit.

”Korban pun langsung dibacok di bagian belakang kepalanya. Maisum sudah tidak tahan karena selalu ditagih untuk mengembalikan emas Rodiyah,” ungkapnya. Tersangka baru ditangkap setelah  anggota polisi mendengar  informasi dari warga, yakni Matdiri, 35, warga setempat.  Irifandi menjelaskan, Matdiri pernah di telepon tersangka untuk membuang jerami.

”Namun tersangka akhirnya  menceritakan kepada Matdiri bahwa di jerami itu ada mayat. Matdiri pun minta maaf dan enggan menuruti permintaan  tersangka,” terangnya. Matdiri lantas lari ke arah sepeda motornya. Kemudian langsung pulang ke rumahnya  di Kampung Manakajah, Desa Panyaksagan, Kecamatan Klampis.

Dia pun mengatakan kepada tersangka bahwa hal  tersebut (membuang mayat, Red) bukan pekerjaannya. Mendengar informasi itu, polisi  langsung mendatangi rumah tersangka. Maisum ditangkap Sabtu lalu (20/2) sekitar pukul 12.00.

Polisi juga mengamankan beberapa barang bukti, seperti  spet darah korban, kaus warna biru milik korban, pecahan  genting dan bongkahan  tanah yang terdapat bercak darah. Selain itu, kaus warna  merah, sobekan kain batik  warna cokelat, dan mobil Carry  merah nopol L 1843 RT.  Irifandi menuturkan, semua barang bukti tersebut dibawa ke Polda Jatim guna diuji forensik  di labfor.

”Ini untuk penyelidikan lebih lanjut. Apakah pembunuhan kepada Rodiyah ini direncanakan sebelumnya atau tidak,” ujarnya. Maisum dijerat pasal 338 sub 340 KUHP tentang Pembunuhan dengan ancaman hukuman maksimal  15 tahun penjara. ”Saat ini  tersangka kami tahan di mapolsek,”  pungkasnya. (radar)

kata Kunci Terkait:

  • pembunuhan di panyaksagan
  • pelaku pembunuhan di batokaban