PLN Akan Cabut Lima Ribu Pelanggan

Satu Tahun Lebih Nunggak Pembayaran Listrik

KOTA – Sebanyak 5.305 pelanggan PLN Rayon Sampang tidak membayar tagihan listrik lebih dari satu tahun. PLN akan mencabut status pelanggan dan membongkar jaringan serta kWh meter listrik. Manajer PLN Rayon Sampang Umar  Solihin mengatakan, pelanggan yang  nunggak ada 9.074 orang. Pelanggan yang sudah tidak bisa ditoleransi sebanyak 5.305.

Pembongkaran kWh meter mulai dilakukan tim khusus yang berjumlah tiga orang. ”Kami tidak bisa memaklumi. Masak lebih satu tahun tidak pernah bayar listrik,” ungkapnya saat ditemui  di ruang kerjanya kemarin (12/4).  

Umar menjelaskan, sebelum dibongkar, pihaknya menerjunkan petugas tagih yang berjumlah 26 orang. Jika membayar, status pelanggan tidak dicabut. Sebaliknya, petugas khusus langsung membongkar jika penagihan tidak diindahkan. ”Kami masih kekurangan petugas penagihan,” ujarnya.

Disebutkan, jumlah pelanggan PLN Rayon Sampang sebanyak 86.475 orang. Terdiri dari kWh meter prabayar 34.949 pelanggan dan 51.526 pelanggan memakai kWh meter pasca bayar. ”Tunggakan di Rayon Sampang Rp  3,5 miliar dan di Rayon Ketapang 2,159 miliar. Kalau jumlah pelanggan  di rayon Ketapang saya tidak tahu,” jelasnya.

Penyebab utama tingginya tunggakan tagihan listrik adalah banyak pelanggan PLN yang tidak membayar tepat waktu. Misalnya, saat petugas tagih datang, pelanggan mengaku belum punya uang. Selain itu, ujar Umar, ada sejumlah oknum yang mengambil untung dari sistem pembayaran listrik.

Modusnya, di desa ada oknum yang menerima pembayaran listrik. Saat pelanggan membayar melalui oknum tersebut, uang pelanggan tidak langsung disetor ke PLN. ”Ada warga di desa-desa yang menerima pembayaran listrik. Tapi, pelanggan tidak diberi kuitansi. Uang itu  masih diputar dulu oleh oknum hingga terjadi tunggakan,” bebernya.

Umar terus menggencarkan sosialisasi kepada semua pelanggan PLN agar pembayaran listrik tidak lambat. Pihaknya mengimbau warga membayar kepada agen resmi yang menerima pembayaran listrik atau melalui perbankan serta datang sendiri ke PLN. ”Kami berharap, pelanggan bisa membantu tugas kami,” pintanya.

Ketua Komisi II DPRD Sampang Moh. Nasir menyatakan, tingginya tunggakan pembayaran listrik bukan serta merta karena pelanggan PLN. Dia menilai, tunggakan bisa menjadi  indikator bahwa kinerja petugas PLN  kurang maksimal.   

Nasir mendesak PLN meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat yang hingga saat ini banyak belum paham. ”Jangan menyalahkan pelanggan terus. Itu harus menjadi evaluasi pihak PLN,” sarannya. (radar)